28 Tahun, Why Not?
Kalau seorang pianis jarinya terbiasa menyentuh tuts piano untuk membunyikan nada nada, aku si pemimpi yang pernah ingin jadi penulis malah kehilangan sparks menulis itu sendiri. Tahun ini, di bulan September lalu aku sudah genap 28 tahun. Sungguh hanya sebuah angka jika dilihat tanpa konteks, tapi berbeda jika dilihat sebagai usia di kultur Indonesia. Apalagi untuk seorang bergender wanita.
Begitu juga dengan bayanganku waktu masih kecil. Melihat seorang perempuan sudah berusia 28 tahun, menurutku orang tersebut sudah dewasa sekali—seharusnya. Nyatanya, saat itu terjadi padaku, semua bayangan itu memang hanya angan-angan anak kecil yang belum tahu apa-apa.
Saat SMA kelas sebelas atau sekitar kelas dua belas, usiaku mungkin masih sekitar lima belas sampai enam belas tahun kala itu. Ada seorang guru perempuan yang saat ini usianya sama dengan usiaku sekarang, dan melihatnya masih belum menikah. Di belakang guru tersebut, hal itu menjadi buah bibir di kalangan siswi. Walaupun si guru memang terlihat lebih muda dari usianya, karena perawakannya yang mungil, tidak membuatnya terlihat terlalu dewasa se-usianya.
Tapi, itulah stigma masyarakat Indonesia yang lucunya lebih banyak muncul dari penilaian sesama gendernya, yaitu perempuan. Kala itu kami melihatnya hanya sebagai pembicaraan biasa. Ternyata saat berada di posisi yang sama, aku bisa melihat dari sisi berbeda. Sebagai sudut pandang orang pertama, diri sendiri.
Kalau biasanya aku menuliskan di blog ini karena curhat yang tidak bisa kupendam sendiri, ternyata semakin beranjaknya usia, keinginan untuk meluapkan seluruh isi hati sekalipun itu lewat tulisan, tidak semenggebu dulu. Tapi akhirnya semakin kutuliskan sesuatu di sini, aku makin menyadari, sudah lama aku tidak berdialog dalam tulisan dengan diriku sendiri. Dulu, itu jadi salah satu hal yang cukup sering aku lakukan, lewat menulis.
Tapi lagi-lagi, itu dulu. Jika dalam bahasa Inggris disebut past tense, yang telah lalu.
Atau mungkin keinginanku untuk terbuka soal isi hati sudah tak seperti dulu. Setidaknya dulu menurutku menulis dapat melegakan. Sekarang, aku terlalu tidak punya waktu untuk melihat kedalam diriku sendiri.
Begitu juga dalam hal percintaan. Ah, suatu hal yang selalu aku impikan mempunyai seorang lelaki seperti di serial drama Korea yang kutonton. Selalu digambarkan bahwa cinta adalah segalanya. Laki-laki harusnya bisa green flag seperti di drama Korea. Nyatanya tidak seperti itu. Lagi-lagi aku bukan pemeran utama dalam serial film, sekalipun kuimpikan kisah manisnya seperti di serial itu.
Usia dua puluh delapan tahun dan belum menjadi apa-apa, tidak punya apa-apa, ternyata memang hidupku akan biasa-biasa saja. Tentu, kalau ingin membandingkan dengan hidupku yang lalu, masa kini jauh lebih baik. Mungkin hampir seluruh hal yang aku idamkan masa itu, bisa terwujud kali ini. Sudah kujalani malah.
Tidak dalam bentuk yang wah memang saat sudah dijalani, tapi saat aku remaja dulu, itu suatu hal yang aku impikan. Manusia memang tak pernah ada habis kemauannya ya.
Dulu aku ingin pisah jauh hidup mandiri tanpa menumpang hidup di rumah orang lain. Saat ini sudah berjalan. Satu ceklis sudah terlewati.
Dulu aku memimpikan bisa bekerja punya penghasilan sendiri, bekerja di kantor bagus, duduk depan laptop, bukan pekerjaan kasar dan berat. Dulu itu jadi salah satu doa, yang ternyata kini sudah kujalani berjalan ke tahun keempat. Ceklis kedua sudah bisa ditandai.
Dulu aku bermimpi ingin punya motor sendiri, agar kemana-mana tidak harus selalu naik kendaraan umum, agar kalau aku mau main kemanapun selalu memudahkan aku. Alhamdulillahnya, Januari tahun dua ribu dua puluh empat tahun lalu, aku bahkan bisa membeli motor dengan tunai tanpa kredit. Sudah masuk ceklis ketiga loh.
Bahkan kalau dijabarkan seperti ini, ternyata hidupku sangat jauh diatas baik-baik saja dan sederhana. Menurutku dulu hal ini merupakan impian, suatu hal yang ingin aku capai. Harusnya aku lebih banyak bersyukur ga sih, hiks.
Dulu aku selalu membayangkan tinggal dan hidup dengan saat bangun tidur membuka jendela balkon dari tempat tidur yang berada di lantai tinggi—singkatnya di Apartemen. Memang bukan Apartemen mewah seperti yang digambarkan dalam film, tapi MasyaAllah tabarakAllah—Allah benar-benar Maha Baik—sekarang hal itu juga udah kujalani jadi keseharianku. Udah masuk ceklis keempat aja nih.
Oiya, bahkan dulu aku punya keinginan mau punya handphone lipat kayak di drama Korea itu, Samsung Z-Flip. Walaupun bukan keluaran terbaru dan bekas, tapi sudah hampir berjalan dua tahun aku pakai handphone lipat ini. Ceklis kelima bisa aku tandai.
Dan mungkin, ini ceklis terakhir yang entah aku mau jabarkan sedetail yang lain atau enggak, karena belum sampai ke pelaminan aku rasa ceklisnya masih berstatus "To Do" atau "On Process". Dulu aku membayangkan ingin punya pasangan yang sayang dengan aku, memahami aku, menerima aku seburuk dan baiknya aku. Gak kerasa sudah hampir setahun minus satu bulan saja perjalanan asmaraku sudah terjalin dengan pacarku kini. Walaupun tentu gak sesempurna bayanganku kecil. Tapi doakan ini jodoh terbaikku ya, HAHA!
Orangnya bakal Ge-Er mampus kalau aku tuliskan dia di sini. Ini rahasia buat kita aja ya, buat kamu-kamu yang tiba-tiba tersesat membaca blog-ku ini, HEHE.
Kuakhiri deh, tulisan ini jadi blog yang patut aku syukuri di usiaku yang sudah menginjak dua puluh delapan tahun ini. Udah nambah sebulan pula, OH NO!


Comments
Post a Comment